Jumat, 22 Juli 2016

Surat untuk Sang Dewi

Dewi...

Nama yang indah untuk seorang wanita. Kulit putih, tinggi, langsing, rambut panjang bergelombang dan terurai, dengan senyum yang bisa memikat siapapun yang melihatnya. Itulah gambaran seorang Dewi yang ada dibenakku dan mungkin bahkan hampir setiap orang.

Dari semua nama Dewi yang kutemui, ada satu Dewi yang berbeda. Ya, dialah Dewi Yuliasari. 

Kulit putih, oke. Tinggi, hmm sepantar denganku tidak tinggi tidak juga pendek, bisa dibilang kami itu "imut". Langsing, tidak! Kami berdua sering dibilang seperti dua angka nol berjalan. Rambutnya sepunggung, hitam dan lurus. Ya senyumnya memang memikat dan terkadang senyum jahil.


Dewi yang ini adalah sahabatku. Sahabat tercintaku, teman sebangku selama SMA, partner makan, partner jahil, partner curhat, partner dalam segala hal. Setidaknya seperti itu hubungan kami, sebelum aku mengecewakannya.

Aku pernah mengecewakan Dewi, sampai tak termaafkan. Memang sudah sepatutnya aku dibenci. Kami tidak bertemu dan berkomunikasi hampir selama 2.5 tahun. Bulan puasa tahun 2015, kami bertemu kembali, suasana cair seketika. 

Mengawali pagi hari dengan seulas senyuman. Itulah keseharian Dewi. Tawa renyahnya adalah lagu bagiku setiap kali aku berada didekatnya.


Dia selalu ceria, ramai, bawel, dan bersemangat! Itulah racun yang ditularkannya kepadaku. Semasa SMP aku tidak banyak bicara, aku pemalu, cenderung diam kepada orang lain yang tidak terlalu dekat. Semenjak aku bersahabat dengannya, sedikit demi sedikit aku pun berubah. Menjadi lebih banyak bicara, bawel dan bersemangat!


Kami menghabiskan banyak waktu dengan tertawa, makan dan tertawa. Ketika Dewi sakit di sekolah dan harus dibawa ke UKS, dia memintaku untuk menemaninya dan meninggalkan kelas, ah kebetulan waktu itu aku sedang malas belajar 😝. Sedih sekali melihat Dewi terbaring lemah, aku mencoba untuk menghiburnya dengan menirukan gaya ulet bulu dan lumba-lumba (lumba-lumba atau paus ya? Lupa πŸ˜“). Tawa kami pun pecah, sampai guru BP melongok ke UKS, siapa sih yang berisik dari tadi?


Dewi, Dewi, Dewi...

Keceriaan dan semangatnya membuat semua orang yang berada disampingnya ikut terpengaruh. Tidak pernah seharipun kami tidak bercerita, sampai-sampai cerita yang sama bisa kami ceritakan dua atau tiga kali. 










Terima kasih telah membuatku ikut ceria, ikut bersemangat sepertimu Dhe.. Oh iya ga lupa juga ikut banyak makannya, sampai aku tiba-tiba membuntal dan sangat suka makan.

You're the Sunshine in my life...

"Sunshine"
Menurutmu itu adalah nama yang bagus untuk seorang perempuan... Yes, you're the Sunshine Dhe!
Betapa bahagianya aku melihat Dewi sekarang. Dia telah memiliki buah hati yang selama ini didambakannya.

Selamat 27 tahun Dhe, selamat hari lahir. Semoga selalu diberikan kesehatan, dipanjangkan umurnya, dan selalu bahagia. Tetaplah menjadi Sunshine bagi suami, anak dan orang-orang disekelilingmu πŸ’œπŸ’žπŸ‘ΈπŸΌ


22 Juli 2016
-nezyanez-