Hampir 1 minggu belakangan ini aku merasakan perasaan yang aneh, semua datang menerpa aku begitu cepat. Perasaan yang mulai tumbuh perlahan, sangat perlahan...dan bahkan terlambat! Membuat hati seorang wanita hancur berkeping-keping, kalau saja dia tau.
Aku musuh dalam selimut yang mungkin paling kejam! Yang dengan sangat tega merebut kebahagiaannya hanya dalam sekejap! Aku merasa jadi orang yang tidak punya harga diri. Saat wanita itu berucap kepadaku tentang dia, tentang semua hal yang mereka lakukan bersama. Seakan aku adalah iblis yang merampas kebahagiaan wanita itu. Iblis yang telah meracuni otak dia dengan semua kejahatan yang baru saja mau aku mulai. Satu hal yang ingin ku katakan, “aku seperti ini karena cinta, hawa nafsu, dan sedikit ketololanku!” dan di akhir jalan akan ku katakan...
26 Januari 2006 adalah “Jalan Menuju Perpisahan Persahabatan”
@@@
“Nieza Gladys Safira... pulang bareng gue yuk?” seru Aya. Agastya Raya namanya, dia temen sebangku Nieza, udah 2 tahun mereka duduk bareng. Sambil merapikan dan memasukan buku-bukunya ke dalam tas, Nieza menjawab malas, “Gak mau ah, lu duluan aja. Rumah gue kan deket banget dari sekolah, gue jalan kaki aja.” Dengan tampang sedikit kecewa Aya menggandeng tangan Nieza, “Tapi temenin gue ke kantin dulu ya.”
“Siiiiiiiiaaaaaaaappp booooosssss........” teriak Nieza sambil mencubit pipi Aya.
Abim udah bertengger dengan manis di kantin, sambil menyeruput segelas jus jambu merah. Abim itu pacarnya Aya, nama aslinya sih Bima Shandria, Abim itu panggilan sayang kata Aya. Mereka berdua dicomblangin sama Nieza, Abim teman lama Nieza, begitu Aya ketemu Abim, dia langsung naksir dan minta dicomblangin. Untung berhasil! Nieza kan mak comblang handal.
“ Hai sayang, hai Niez” sapa Abim.
“Abiiiiiimm..... Aya kangen Abim...” rengek Aya sambil mencet-mencet hidung Abim.
“Iya sayang, Abim juga kangen Aya. Yuk kita makan dulu, ikut ya Niez” ajak Abim.
“Gak deh, gue gak ikut. Kalian aja ya, gue gak mau ganggu.” Kata Nieza sambil berdiri mau pulang, tapi Aya langsung narik tangan Nieza, langsung dituntun ke mobil Abim. Nieza Cuma bisa pasrah.
Di dalam mobil, Nieza ngerasa rada gak nyaman, dia lebih banyak diam dan mendengarkan lelucon-lelucon konyol Aya sambil sesekali tertawa garing. Karena kebanyakan ngoceh, Aya keselek. Untung Abim berhenti pas di depan minimarket.
“Aya aja yang beli ya, Abim disini aja, nanti Abim gak tau yang Aya mau.” Pinta Aya sambil menutup pintu mobil. Tinggal Nieza yang jadi canggung gara-gara ditinggal berdua. Sebenarnya Nieza kaya gini karena dia punya perasaan sama Abim! Awal mereka kenalan sih Nieza masih biasa-biasa aja, malah dia pernah bilang gak suka sama Abim ke Aya. Setelah Aya jadian sama Abim, Nieza baru ngerasa kehilangan, dan dia baru sadar kalau dia sebenarnya sayang sama Abim. Tapi terlambat! Benar-benar terlambat!
“Kok diam aja sih Niez?” suara Abim memecahkan lamunan Nieza.
“Eh, hehe... gak kok, gak apa-apa. Nyantai aja lagi, hehe...” Nieza gelagapan.
“Niez, nanti kalau udah sampai rumah, gue telpon boleh ya? Ada yang mau gue omongin sama lu.” Tampang Abim kali ini benar-benar serius. Nieza Cuma mengangguk pasrah. Gak lama Aya udah kembali ke mobil, dengan seplastik besar jajanan dan mulai mengoceh lagi. Mereka pun segera pergi menuju restaurant favorit mereka.
@@@
“Halo Nieza? Lagi apa Niez? Udah mau tidur belum?”
“Eh Abim, belum kok. Lagi denger musik aja. Oh iya, ada apaan yang tadi siang Bim?” tanya Nieza ragu.
“Niez, gue mau jujur ya sama lu. Sebenarnya dari pertama kita kenal gue udah suka banget sama lu! Makanya gue deketin lu, tapi kenapa lu malah nyomblangin gue sama Aya? Gue kecewa sama lu Niez!” jawaban Abim membuat Nieza kaget.
“Ta...pi, tapi kenapa waktu itu lu mau dicomblangin sama Aya?” Nieza setengah marah sambil menahan tangis. “Kenapa juga lu gak bilang dari awal ke gue? Terus sekarang perasaan lu ke Aya gimana Bim?”
“Waktu itu gue lagi nunggu waktu yang tepat buat nyatain ke lu. Tapi lu datang dengan ide gila lu, tadinya gue mau nolak, tapi liat Aya yang semangat kalau ketemu gue, gue jadi gak tega.” Jawab Abim lirih. “Gue baru jadian 2 minggu, perasaan gue masih biasa aja ke Aya. Gue masih tetep mencintai lu Niez!”
Nieza gak bisa berkata-kata lagi, air matanya pun jatuh.
“Niez, lu masih disitu kan? Nieza?”
“Harusnya ini gak boleh terjadi Bim, kasihan Aya. Dia gak tau apa-apa dan sekarang malah jadi korban. Gue sayang Aya, Bim... gue udah anggep dia kayak adek gue sendiri. Gue gak mau nyakitin dia...” Nieza gak kuat lagi nahan tangisnya.
“Jangan nangis Niez, gue gak mau denger lu nangis. Gue tau gue salah Niez, tapi apa gue gak boleh jujur sama diri gue sendiri? Gue gak bisa kalau terus-terusan bohongin persaan gue sendiri, yang gue cintai dan gue sayang itu cuma lu Niez! Sekarang lu jujur deh sama gue, sebenarnya perasaan lu sendiri gimana ke gue?”
Cukup lama Nieza terdiam...
“Sebenarnya gue juga sayang sama lu Bim. Gue baru sadar itu setelah kalian jadian. Gue juga nyesel kenapa gue punya persaan ini! Makanya selama kalian jadian gue selalu menghindar dari kalian, karena gue gak mau liat kalian mesra-mesraan depan gue. Hati gue sakit liatnya Bim...” ada perasaan lega dihati Nieza.
“Lu gak salah kok Niez, justru yang bohongin diri sendiri yang salah. Thanks ya Niez, lu udah punya perasaan yang sama kayak gue. Niez, gue mau kita jalanin hubungan ini.” Pinta Abim.
“Hubungan apa maksud lu?” Nieza heran.
“Kita jalanin hubungan di belakang Aya. Kita kan sama-sama sayang, jadi apalagi?”
“Lu gila Bim! Gue gak mau nyakitin Aya! Gue memang sayang sama lu, tapi bukan berarti gue bisa mengkhianati dia!” Nieza marah.
“Gue ngerti, gue ngerti. Gue paham banget Niez. Tapi apa lu mau nahan perasaan lu terus-terusan? Sakit kalau liat gue sama Aya? Mau sampai kapan Niez?”
“Gue... gue gak tau Bim. Hmmm... tapi... tapi gak akan ketauan kan sama Aya?”
“Tenang aja, gue berani ngejamin!”
Sejak malam itu mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Aya.
@@@
29 Januari 2006 – Antara Aku dan Dia
Hari ini lagi-lagi aku membohongi wanita itu, dibelakangnya aku telah merampas kebahagiaan yang telah wanita itu miliki. Satu ciuman yang telah merusak segalanya, membuat aku kehilangan akal sehatku! Serigala berbulu domba. Itulah aku saat ini... di depannya aku berpura-pura manis, lalu secepat kilat aku menerkamnya dari belakang.
Tuhanku...... kapan ini semua harus berakhir??? Aku sudah tidak mau lagi menari-nari di atas penderitaan wanita itu. Karena aku pun sama, wanita seperti dia, yang tak berdaya bila diperlakukan seperti ini. Aku sungguh tidak tega!!!
Tuhanku...... yang ku inginkan sekarang adalah hentikan semua ini secepatnya dan carikan pengganti untukku, dan aku akan melupakan semuanya dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan dia..
@@@
Pagi itu minggu yang mendung di kota Bandung, disaat semua orang masih asyik menarik selimut mereka dan kembali terbang ke dunia mimpi. Nieza dan Abim malah muter-muter kota Bandung dengan Satria merah milik Abim. Setelah sempat nongkrong dan minum-minum sebentar di taman depan kampus ITB, mereka sepakat untuk pulang ke rumah Abim, karena cuaca terlalu dingin untuk tetap melanjutkan acara muter-muter mereka dengan menggunakan motor.
Sampai di rumah Abim, Nieza langsung dipersilahkan masuk. Nieza langsung menuju kolam renang yang terletak di taman belakang rumah Abim, sementara Abim menuju dapur untuk mengambilkan camilan dan minum untuk Nieza. Hanya ada mereka berdua di rumah itu, karena keluarga Abim pergi ke Jakarta untuk menjemput Papa Abim yang baru pulang dari Singapore untuk urusan bisnis. Sebenarnya Nieza sedikit risih dengan suasana di rumah Abim, karena mereka cuma berdua dan cuaca benar-benar dingin. Membuat Abim duduk lebih merapat ke Nieza.
Semakin lama Abim duduk semakin dekat dengan Nieza, membelai rambut Nieza dengan penuh sayang, mencium keningnya, dan meremas jemari Nieza lalu menciumnya juga. Nieza gugup setengah mati! Keringat dingin membasahi kening dan tangannya. Lalu dia mengambil jarak agak jauh dari Abim, dia takut terjadi hal-hal yang sebenarnya dia inginkan. Tapi Abim dengan genit mendekatinya lagi dan mulai memainkan rambut Nieza, yang membuat Nieza semakin deg-degan. Abim mulai mencium kedua pipi Nieza yang lembut seperti bayi, lalu Abim mencium bibir Nieza dengan sangat lembut. Nieza tidak bisa menolak!
“Maafin gue ya Ay” bisik Nieza dalam batinnya.
@@@
Apa yang ada dalam pikiranku? Hanya ada ketololanku yang membuat aku semakin idiot saja!!! Perlahan wanita itu bertanya-tanya dalam hati, “apa yang sebenarnya terjadi?”.
Ooh Tuhanku... harus sampai berapa lama aku menyimpan semua ini? Di satu sisi aku mencintai dia, tapi di sisi lain ada hati yang terluka.
Semakin hari sikapnya semakin manis kepadaku, dan itulah yang selalu membuat hatiku luluh dan kembali jatuh dalam pelukannya! Harus berkata apa aku kalau wanita itu mengetahuinya? Apa aku harus berbohong lagi??? Tiiiiddaaaaaakkk..............!!! Tuhanku... aku mohon kepadamu berilah aku petunjukmu, agar aku dapat menyelesaikan semuanya, dan semoga wanita itu memaafkanku...
@@@
Hari ini lagi-lagi Abim memperlakukan Nieza dengan begitu manis, seakan Nieza adalah seorang puteri kerajaan dan Abim adalah budaknya yang diwajibkan untuk melayani semua kebutuhan sang puteri. Aya sedikit curiga dengan kedekatan mereka berdua.
Aya sedang main ke rumah Abim, mengecek hape Abim dan menemukan bahwa Abim dan sahabatnya, Nieza, sering sekali telpon-telponan.
“Bim, Abim sering telpon-telponan ya sama Nieza?” tanya Aya penuh curiga.
“Oo, itu Nieza curhat sama Abim tentang Radit, teman Abim yang pernah dikenalin sama Nieza waktu itu loh, kamu inget kan?” jawab Abim hati-hati.
“Oh iya, Aya lupa. Hehe... wah, mereka sekarang udah deket ya?”
“Iya, Nieza curhat sama Abim karena Abim kan yang lebih deket sama Radit, jadi dia bisa ngorek-ngorek informasi tentang Radit deh.”
“Iya ya. Wah,senangnya. Hahaha... berarti nanti kita bisa double date! Hahahaha...” Aya tertawa bahagia.
Miris mendengar tawa bahagia Aya, kalau saja dia tau yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin dia masih bisa tertawa bahagia sepert itu?
@@@
1 Februari 2006
Dilema yang terus berkecamuk dalam pikiranku. Bayangan wanita itu semakin jelas menangis dan meronta-ronta menahan sakit! Mungkin sudah terlalu lama aku berjalan di atas skenario yang ku buat dan aku telah merasakan nikmatnya... walau aku tau pedih di akhir ceritanya, namun aku masih tetap berada di dalamnya. Dan suatu saat kebenaran akan terungkap, aku sudah siap dengan segala resikonya.
Disaat 9 bintang menungguku, aku memilih untuk tetap berada di dalam skenario ku. Kemana mataku? Matikah kau mata hatiku? Dan satu hal yang baru aku sadari, mataku dan mata hatiku tertutup untuk satu kenyataan...
@@@
Nieza semakin menikmati kebersamaannya dengan Abim, walaupun harus secara sembunyi-sembunyi. Mungkin semua orang akan mengatakan dia bodoh dan lain sebagainya. Tapi dia bahagia dengan itu semua. Padahal masih banyak cowok yang suka sama Nieza, kalau dihitung-hitung ada 9 orang. Tapi Nieza gak sreg sama mereka semua, mungkin karena dia udah dibutakan sama cintanya ke Abim. Nieza gak tau harus sampai kapan hubungannya dengan Abim berlanjut. Dan Nieza udah mempersiapkan dirinya kalau suatu saat semua ini akan terbongkar.
@@@
3 Februari 2006
Malam tadi hatiku gundah gulana, disertai dengan rasa cemas dan sedikit gelisah. Pukul 21.00, aku masih tak menyangka. Seperti mimpi lelaki itu menangis di depanku yang membuat aku sangat terkejut! Perlahan dia mengucapkan selamat tinggal kepadaku dan selamat tinggal pada mimpi-mimpi kita, dengan berlinang air mata. Aku pun tak kuasa menahan bendungan air mataku yang akhirnya jatuh perlahan membasahi kedua pipiku. Tubuhku berguncang hebat. Kemana perginya ketegaranku? Hilang seketika. Dan dia pun pergi.
Tanpa aku sadari, dia sudah berada di sampingku lagi. Mengucapkan beberapa kata, lalu dia memelukku... erat! Saat itulah air mata kami tak terbendung. Air mata bahagia. Lalu dia memberiku sesuatu yang terasa sangat spesial di mataku. Tak berapa lama dia mencoba menggenggam jemariku, disertai ucapan pamit, dia mencium keningku dan berlalulah dia...
@@@
2 Februari adalah hari ulang tahun Nieza. Tahun ini usianya 16 tahun. Banyak sekali ucapan selamat ulang tahun yang dia terima, begitu juga dengan seplastik besar kado yang dia dapat dari teman-teman sekelasnya, termasuk Aya.
Tepat pukul 9 malam Abim datang ke rumah Nieza. Nieza tidak punya firasat apa-apa. Dengan berlinang air mata, Abim mengucapkan bahwa dia akan mengakhiri hubungan mereka, bahwa Abim udah gak kuat backstreet terus-terusan dari Aya. Tadinya Nieza berpikir Abim lagi ngejailin Nieza karena dia ultah, tapi melihat Abim yang terus-terusan menangis Nieza pun ikut menangis, dia masih belum siap dengan keputusan Abim yang begitu mendadak. Abim langsung pamit pulang. Tapi Nieza masih diam mematung ,tidak percaya Abim meninggalkannya di hari bahagianya itu. Sambil memeluk kedua lututnya, Nieza menangis tersedu-sedu.
Ternyata Abim tidak pulang, dia mengambil sebuah kotak besar berwarna pink yang diikat dengan pita polkadot berwarna putih-pink. Nieza masih menangis di tempat dia duduk tadi. Abim menghampirinya, lalu dia menyanyikan lagu happy birthday setengah berbisik dan memeluk Nieza dengan erat! Nieza kaget dan balas memeluk Abim dengan erat juga, masih dengan bercucuran air mata. Tapi kali ini air mata bahagia yang mereka keluarkan. Lalu dia memberikan kotak berwarna pink yang dibawanya, Nieza membukanya hati-hati. Isinya blackforest berbentuk hati, yang bertuliskan “happy birthday my sunshine”. Memang cuma kue ulang tahun biasa, tapi terasa begitu spesial di mata Nieza. Karena yang memberikannya adalah orang yang dia cintai.
Mereka tertawa bersama. Lalu Abim menggenggam jemari Nieza, menciumnya, dan mengucapkan kata “i love you”. Sambil izin pamit pulang, Abim mencium kening Nieza. Lalu dia pergi meninggalkan Nieza yang masih shock dengan kejadian malam ini.
@@@
21 Februari 2006 – Akhir Perjalanan Kita
Usai sudah kisah antara aku dan dia, yang mengalami berbagai cobaan. Kini tidak akan ada yang bisa merasakan sakitnya, aku pun bisa tersenyum kembali dan menjalani kehidupan seperti dulu lagi.
Pershabatan aku dan wanita itu pun akan terus utuh dan takkan mengalami gangguan-gangguan lain yang mencoba merapuhkannya. Lega rasanya hati ini, tidak harus memakai topeng kebohongan seperti dulu.
Teman, sekarang kamu bisa memilikinya seutuhnya, dan aku tidak akan mengganggu kalian. Karena aku pun sudah memiliki pangeran di hatiku, dan aku berusaha untuk selalu meyayanginya seperti dulu aku menyayangi kekasihmu.
Semoga persahabatan kita selamanya, dan semoga kasih sayang yang aku jalin bersama pangeran hatiku akan bertahan dalam waktu yang lama.
@@@
Setelah sekian lama hubungan yang mereka jalani, mungkin mereka menemukan titik kejenuhan. Nieza pun telah mempunyai pacar, namanya Aryo. Mereka bertemu di acara pernikahan tantenya Nieza. Awalnya memang Nieza baru sekadar suka sama Aryo, tapi seiring waktu berjalan, perasaan sayang itu mulai tumbuh. Dan Nieza menikmatinya.
Di antara Nieza dan Abim udah gak ada hubungan spesial ataupun yang lainnya, mereka udah sepakat untuk mengakhiri semua kisah cinta yang pernah terjalin antara mereka. Menguburnya dalam-dalam dan melupakan semua kenangan manis Nieza dan Abim. Hubungan Nieza dan Aya pun kembali normal seperti biasa, dan Nieza udah gak punya perasaan bersalah lagi.
Sekarang tinggal Nieza dan Aryo yang mencoba untuk memulai kisah mereka berdua. Apakah akan berakhir bahagia atau malah berakhir duka? Cuma Tuhan yang tau jawabannya.
TAMAT